Surat Untuk Siapa

Aku bangun dan masih bermimpi.

Bagaimana jika aku menemukan surat yang ditujukan kepada siapa.

Mengatakan akan kejadian suatu masa yang akan merubahku menjadi siapa.

Tertulis di lipatan amplop berwarna coklat seperti kertas buku yang telah lama tertutup.

Masih kuragukan aku ingin membacanya atau tidak.

Mengingat aku masih ingin bermimpi namun kepada siapa surat ini ditujukan pun sebenarnya aku ingin tahu.

Aku ingin memainkan kata-kata di surat itu.

Bagaimana jika aku saja yang menulis suratnya.

Dan menujukan surat itu kepada siapa.

Tapi ternyata aku masih bermimpi.

Oleh karenanya aku tidak perlu menulis surat itu.

Isi suratnya mampu menyesuaikan seperti aku ingin membaca apa.

Aku ingin hilang ingatan.

Di mimpiku itu kudapati diriku hilang ingatan.

Semua kisah yang telah ku baca ingin aku simpan saja.

Tidak perlu muncul lagi.

Tidak.

Aku tahu itu sangat indah.

Namun tidak.

Aku tidak mau lagi kisah-kisah yang telah aku baca melebur menjadi satu.

Dimana aku mengenal seseorang di suatu tempat.

Dan mendapati dirinya dengan seseorang lagi di lain waktu kujumpa dirinya.

Dan dibelakangnya ku melihat awan mendung menghampiri.

Raungan naga terdengar di kejauhan.

Kilar menyambar.

Dewa dan tetua mulai menampakkan dirinya.

Namun seseorang di suatu tempat masih bersama seseorang yang di lain waktu kujumpa dirinya.

Berdua tercengang.

Aku tidak lagi mendongeng.

Aku sedang bermimpi.

Aku memimpikan hilang ingatan.

Aku takut jika semua kisah yang telah aku baca melebur menjadi satu.

Seperti itu.

Aku takut sebenarnya jika aku membaca kisah yang terlalu arogan.

Aku takut jika tiba-tiba dia memutuskan untuk menghilangkan lembaran-lembaran kisahnya.

Karena terlalu arogan.

Itu juga menjadi sebab aku bermimpi ingin hilang ingatan.

Surat itu aku membacanya telah memberiku penawaran.

Menawarkan diriku untuk melupakan segala kisah.

Bahkan surat itupun menyuruhku untuk menolak barang siapa yang mencoba untuk mengingatkan kisah itu kembali.

Surat itu membiarkanku hidup di keadaan dimana aku hanya bisa memberikan senyuman untuk semua kisah.

Surat itu mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja.

Dan aku tergiur.

Aku tahu surat itu sedang membacakan dirinya karena dia tahu aku ingin membaca apa.

Aku rasa surat itupun ingin aku untuk menjadi siapa.

Tapi aku tetap ingin hilang ingatan.

Dan kudapati diriku masih saja bermimpi.

Aku memimpikan salah satu kisah yang menagih ingatanku akan tentangnya.

Aku ingin seperti itu.

Aku ingin melihat kisah itu dengan mimiknya yang kehilangan pembaca setia.

Iya. Diriku memang setia.

Setia terhadap banyak kisah.

Aku ingin kisah satu itu tahu bahwa pembacanya ingin melupakannya.

Bukan sekedar cinta membacanya.

Kudapati diriku telah jatuh cinta terhadap kisah itu.

Karena aku cemburu terhadap perkataannya.

Bukankah cemburu artinya cinta?

Kata-katanya membuatku cemburu.

Memang sangat begitu.

Menyakitiku.

Bahkan itu tidak terucap.

Bagaimana bisa?

Kisah itu bisa.

Aku tahu itu.

Surat itu kurasa telah merubah diriku menjadi siapa.

Tujuan surat itu barangkali memang untukku.

Siapa adalah aku.

Siapa adalah pemimpi.

Sepertiku.

Aku mulai takut jika aku terbangun dan kudapati surat itu ada dibawah bantalku sehingga aku memimpikannya saat ini.

Atau aku terbangun dan mendapati surat di dalam halaman-halaman koleksi novelku mengingat aku sudah lama tidak membukanya.

Siapa yang tahu jika ada kisah yang sengaja mengirimkan sepucuk surat untukku.

Aku tahu aku mulai meracau.

Hei, siapa yang peduli?

Bukankah aku sedang bermimpi?

Sudahlah.

Surat ini entah mau ditujukan kepada siapa.

Adanya memang seperti itu.

Biarlah.

Aku sudah membacanya atas kemauan bacaku.

Dan aku sudah diubahnya menjadi siapa.

Surat untuk siapa ini sejenak membawa mimpiku merasakan bagaimana hilang ingatan itu.

Hilang dari semua kisah.

Bukankan alasan aku suka membaca kisah itu karena aku ingin pergi kesana-kemari jika ada suatu hal yang mengganggu?

Aku pengecut?

Ah bukan. Aku bukan.

Aku hanya suka bepergian dalam pikiranku sendiri.

That’s my sanctuary.

My incredible sanctuary.

Aku masih belum bisa bangun dari mimpi ini walaupun aku tahu awalnya aku sudah bangun.

Surat ini masih dipegang oleh pikiranku.

Tak terlepas.

Aku, jangan-jangan masih menjadi siapa.

Lantas. Sampai kapan?

Entah, aku hilang ingatan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s