Mungkin Sekedar Mengabaikan Masa Kecil

Hei, baru saja aku mengalami bahwa pikiranku tertahan. Bingung kan? Sama.

Sebentar, aku belum pernah cerita kalau aku buka rental Play Station di rumah? Ok, that’s ma bad. Aku suka anak kecil namun tidak seperti ini. Anak-anak sekarang sudah beda. Terlampau beda dengan keadaanku yang dulu. Sudah banyak percakapan yang mengkritisi hal ini. 9gag, situs puwualing fun yang pernah aku kunjungi. Disana awal aku mulai paha perbedaan generasi kita. Aku lahir tahun 1992, yah dibilang saja tahun 90an. Itu sepertinya menjadi akhir masa paling bahagia yang terjadi pada abad ini. Aku terlahir sebagai perempuan dan tidak merasa keberatan dengan hal itu. Sungguh. Dan aku bangga! Jika kalian ingin tahu bagaimana caraku menghabiskan masa kecilku, berarti kalian menuntutku untuk pamer disini. Dan aku tidak keberatan sama sekali.

Sebisaku untuk show off disini. Jadi, seperti inilah kisah kecilku dulu :

  1. Aku cewe dimana suka sekali blowing imaginations as real as possible. Dengan bermain bongkar pasang, rumah-rumahan, masak-masakan, bermain rumah tangga-rumah tangga’an, perang-perangan, mati-matian, cinta-cintaan. Saat itu absurd tapi tiada yang lebih menyenangkan saat itu. Underwear. No, I mean “i swear”. Damn sweet minions!
  2. Suka sok berpetualang. Alias kelayapan. Susah disuruh tidur siang. Sering diam-diam kabur keluar rumah saat ibuk mulai terlelap. Dan lari-lari kesana kemari bareng teman-teman. Main ke kampung sebelah. Bersepeda kadang pakai sepatu roda. Paling sering lari sih. Cuma untuk kejar-kejaran. Metik bunga rumah orang. Lari lagi. Ambil buah dari rumah orang. Kemudian lari lagi. Disini bisa dibilang anak kecil itu keadaan dimana mereka bisa lari jika senang dan bahkan bisa lari jika ada masalah. Bener kan?
  3. Menganggap dirinya mempunyai hidup seperti di telenovela atau drama asia di televisi. Aku suka Amigos dan Meteor Garden, dulunya. Dan mempunyai teman kelas yang senasib. Akhirnya kita sama-sama mempunyai masalalu yang akan kita tertawakan kelak.
  4. Hei! Hei! namun disini dari kecil aku merasa sudah di didik untuk membuat kisah sendiri. Kesukaanku masih banyak dan itu sangat awesome menurutku. Anime saat itu melegenda. Ninja Hatori, Dragon Ball, Minky Momo, Cardcaptor Sakura, Doraemon, dan animenya berlanjut hingga aku SMP. Setelahnya ah sudah jangan dibahas lagi. Aku suka EMINEM sedari aku sekolah SD. Kalau ini bahas sampai kapanpun aku tidak masalah. Nah, kisahku yang ini akan sangat keren jika aku ceritakan ke orang lain. Aku tahu itu.
  5. Mempunyai koleksi orji. Entah apa istilah sebenarnya. Coba cari di Google saja nanti kalian pasti tahu. Jika kalian memang tahu 😀 dan itu masih aku simpan, aman, rapi, indah, arrogant, sampai sekarang@@
  6. Awal aku suka membaca yaitu majalah Bobo pinjam di rental komik langganan mas ku. Masih berlanjut hingga aku punya cerita dongeng sendiri karena beli susu formula gratis cerita dongeng. Dan masih saja berlanjut hingga aku beli dengan uang jajanku sendiri kisah-kisah misteri yang konyolnya aku bisa dibikin takut hanya dengan kisah 10 halaman kecil itu. Masih saja berlanjut sampai sekarang akhirnya aku mempunyai banyak koleksi novel best seller karena hobbyku itu. Sangar yah 🙂
  7. Terakhir deh sebagai pelengkap. Sepeda tanpa slebor dengan gelas aqua kosong diselipkan di besi penyangga roda. Supaya suaranya seperti motor. Karena gesekan dari ban dengan gelas plastik itu sendiri. What an amazing thought! 😀

Sebenarnya masih banyak lagi kisahnya. Dan dibanding yang sekarang? Suram@@

Aku menjadi Ketua Divisi Pendidikan saat KKN dulu. Secara tidak langsung aku terjun sebagai pengamat behavior anak kecil di desa tersebut. Dan hasilnya miris. Di kota seperti Surabaya maupun di desa Probolinggo anak kecilnya sudah kecanduan barang elektronik. Televisi dan Hand Phone terutama.

Salah satu anggota pendidikanku, Mas Wisnu, mencoba melebur dengan mereka. Sore hari, Kelurahan. Dia serius menanyakan dimana tempat orang jualan Bakso yang enak disini. Anak kecil menjawab dengan bangganya, “Beli bakso di Solo, Masalah Buat Lo?!!”. Okay itu tidak sopan menurutku meskipun maksud dari anak kecilnya itu untuk bercanda. Lagi saat kita menjalani program kerja untuk memberikan materi pelajaran di rumah. Adek-adek SD pada bawa HP. haha! niatnya mau minta nomor HP kakak-kakak KKN.

Ini lagi dirumahku. Sekarang ini. Tidak perlu jauh-jauh.

Aku membuka rental PS dirumah. Yang main memang dari seluruh kalangan sih. Tapi mayoritas laki-laki. Yang bikin swt itu anak kecilnya. Keras, tidak sopan, pervert(seriously), sok crime, cigarette, dewasa sebelum waktunya, aneh, lebih banyak sisi negatifnya. Mungkin disini salah tuan rumah juga kenapa kok buka rental PS. Haha. Kali ajah sih. Tapi coba bayangin. Anak jaman sekarang kalau main bola kejar-kejaran berantem malah dimarahin sama ibunya. Jika giliran dicari kemana-mana tahu-tahu main PS dirumahku, ibunya malah merasa aman. Terus salah siapa disini? Sama-sama salahnya? Kali ajah sih.

Bocah sekarang ini sudah kegandrungan gadget. Internet. Ketimbang menyukai cara untuk menyatakan imajinasinya menjadi nyata. Bocah jaman dulu lebih suka menggunakan fantasinya untuk bermain. Mungkin ada yang tidak terima dengan pernyataan ini. Aku bukan pengamat anak kecil. Tapi aku mencintai masa kecilku.

Dan. Percakapan anak kecil yang aku dengar tadi di rental menyatakan bahwa kiamat adalah :

Kiamat iku lak bulan e retak.

Kiamat iku bintang e ceblok kabeh.

Kiamat iku gak onok wong meteng. Sepi.

Nah.

Pikiranku tertahan disitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s