Ketidak Sopanan Dingin

Entah ribuan kata sudah berdesakan di kepala sepertinya.

Kisahku, kisah membawaku ke tanah itu. Jogja. Bayangkan aku yang terlihat meragukan mendapatkan ijin dari orang tua untuk pergi keluar kota. Dengan lelaki yang entah aku harus menyebutnya apa selain pacar. Dengan dia, Aldhi. Ya Tuhan sudah berapa lama aku dengan dia dan kisahku membawa kita ke tanah Jogja. Jika aku berlebihan menceritakan hal ini biarlah. Aku memang pongah dalam bercerita.
Suatu hal yang menurutku tidak mungkin. Tidak semudah itu untuk mendapatkan ijin dari orang tua karena ini memang benar-benar orang tua.
Dia yang mengajakku, entah bagaimana aku harus membantu Dia saat menit-menit menjelang kereta malam berangkat waktu itu. Aku paham jika Dia melakukan kesalahan. Ya siapa yang mengira sepandai-pandainya orang mengatur sesuatu akan ada saja hal, bahkan sekecil apapun, yang menjatuhkan rencana orang tersebut. Namun malam itu hal yang dikira akan menjatuhkan rencana dapat diatasi. Dan aku tidak bisa membantu. Dia paham. Kita sama-sama paham. Dia menangis. Aku mencium pipinya. Tidak lama aku tidur, Dia menyempatkan memakaikan selimut untukku. Suasana kereta malam saat itu memang dingin. Dinginnya Jogja terbawa hingga kita kembali ke Surabaya. Dingin itu menemani kita dengan tidak sopannya.
Aku ingin membalas Dia tapi tidak tahu bagaimana.

Terima kasih atas kisahku.
2014 Feb 16, Sun 11:33 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s