My brain thread


Andai Aku tidak masalah dengan kenakalanmu

Andai Aku tidak mengingatkan segala kesalahanmu

Andai Aku tidak menegurmu saat kau khilaf

Andai Aku tidak cemburu

Andai Aku tidak melarangmu melakukan hal berlebihan

Andai Aku membiarkanmu melakukan hal tidak penting

Andai Aku tidak pedulikan kabarmu

Andai Aku tidak menoleh saat kau minta bantuan

Andai Aku bisa mengatasi semua masalahku tanpamu

Andai Aku juga se sibuk dirimu

Andai Aku tidak merasa kesepian tanpamu

Andai Aku tidak malu jika orang lain tahu kejelekanmu

Andai Aku tak sakit hati jika kau menyepelekan situasiku

Andai Aku tipe wanita yang suka menilai fisik dan harta

Andai Aku mengenalmu hanya dalam waktu baru-baru ini

Andai Aku tahu kau saat sudah mapan

Andai Aku tidak mempunyai mimpi bersamamu

Andai Aku tidak berangan-angan tentangmu

Andai Aku tak pernah mengkhayalkan dirimu

Andai Aku tidak menunggumu pulang

Andai Aku tidak ingin pelukmu

Andai Aku tidak rindu ciummu

Andai Aku tidak mau menghirup aroma tubuhmu

Andai Aku sombong dengan masalahmu

Andai Aku tidak menangis saat takut kehilanganmu

Andai Aku tidak ingin menjadi wanita seperti ibumu

Andai Aku baik-baik saja saat jauh darimu

Andai Aku berkenan jika didekati lelaki lain

Andai Aku bisa lupa denganmu saat Aku bersama mereka

Andai Aku tidak sedih saat ditinggal kau pergi

Andai Aku tidak memusingkan prasangka jelek kenalanmu terhadapku

Andai Aku biasa saja terhadapmu

Andai Aku tidak ingin membangun rumah tangga yang baik denganmu

Andai Aku sama sekali tidak punya cita-cita denganmu

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku tentunya tidak akan merepotkanmu, tidak akan membuatmu bingung. :’)

Advertisements

Safe me. Guide me.


Ini semua aku rasa terlalu berlebihan. Aku yang tidak/belum siap atau memang sudah berlebihan? Ini semua mungkin proses namun membuatku khawatir. Seolah ada yang terlewat. Padahal masalah kisah ini belum seberapa bahkan tidak ada apa-apanya mungkin. Saat kusadari iri tidak lagi masalah harta namun ilmu, entah jalan pikiranku mengarah kemana. Semakin dipikir semakin aku malu, semakin aku merasa bukan siapa-siapa di dunia ini. Bagiku tak mudah meraih keinginan apalagi menilai mimik orang. Rutinitas baruku membuat otakku selalu awas bukan karena sekarang aku mulai minum kopi setiap hari, mungkin karena aku merasa semakin selalu “diawasi”. Itu mengarahkan setiap perilakuku untuk bisa dipertanggung jawabkan, walaupun terkadang sok bertanggung jawab. Penyesuaian. Hal baru, namun harus sama-sama menyesuaikan, tidak bisa satu sisi saja. Semua ini, segalanya, rasa syukurku merubah kenikmatan menjadi takut. Bukan karena kehilangan, namun kusadari semakin tua semakin bukan siapa-siapa selain pengalaman. Maaf untuk segala hal buruk, terima kasih untuk kesenangan yang berlebih. Aku bukan siapa-siapa melainkan adanya sentuhan-Mu.

Cukup Hebatkah?


Sekarang saja aku sering khawatir sama pasanganku. Aku ingin tahu bagaimana perasaan setiap istri jika ditinggal pergi suaminya. Entah itu urusan kerja, main, berkunjung, atau yg lainnya.
Masalahnya khawatir ini lebih ke curiga. Mungkin karena aku terlalu banyak melihat film yg beradegan kaum lelaki begitu semena-mena dalam urusan perasaan maupun fisik kepada kaum wanita.
Sisi diriku menyentak keras hal seperti itu. Aku cenderung tidak mau disepelehkan mengingat genderku perempuan. Aku ingin menjadi perempuan yang banyak bisanya. Bisa dibilang agar aku mampu bertahan dan membela diriku disaat aku jauh dari pasanganku.
Pikiran ini justru menggangguku. Karena semakin aku memikirkannya jauh, pikiranku semakin masuk ke dalam inti pengkhayalan yang menakutkan.
Karena sesungguhnya diriku tidak mencari kesetaraan dalam gender walaupun aku ingin menjadi perempuan yang banyak bisa. Lelaki itu ada bersamaku, itu yang aku inginkan. Menjalani susah senang bersama. Membantu dia dalam banyak hal karena aku adalah perempuan yang banyak bisa.
Aku ingin demikian.
Namun aku rasa aku belum cukup bertahan jika aku belum tahu bagaimana perasaan istri-istri yang ditinggal suaminya pergi. Bagaimana cara mereka bertahan dan membela diri, bagaimana kuatnya mereka kupikir lebih berkualitas ketimbang perempuan yang bersanding dengan suaminya setiap malam.
Aku ingin tahu ini semua dan hanya tertuju pada istri yang ditinggal pergi suaminya karena diriku seorang perempuan. Untuk suami yang meninggalkan itu beda urusan.
Maka mereka istri-istri yang ditinggal, akankah mereka berpikiran negatif? Atau mereka selalu menyupport suaminya yang jauh? Atau mereka aman karena mendapatkan perhatian lelaki lain? Tenangkah pikiran mereka? Berapa air mata yang menetes disaat kesepian? Banyakkah? Kuatkah hati mereka saat mereka khawatir? Jujurkah ia kalau sebenarnya sedang rapuh, takut, butuh penopang?

Tiba-tiba aku kagum kepada sosok wanita yang lemah namun gagah, takut namun berani, lumpuh namun bisa berlari, menangis namun tertawa, jatuh namun mampu terbang, bermimpi namun tersadar. Entah sosok itu siapa namun aku kagum.
Jika ada istri yang demikian maka kaum lelaki tidak terlihat hebat lagi kurasa.
Dan jika ada istri yang demikian namun bersandar dengan lelaki lain, maka mereka yg ditinggalkan dan mereka yang meninggalkan dan juga mereka yang dibuat sandaran oleh yg ditiggalkan harusnya mendapatkan hal yang setimpal.

Nuansa Hujan di Serentang Tangan


Saat ini serdadu dari langit turun
Aku merasakan deras aliran makna
Tak ada rugi, tak ada sesal
Tak ada malu, hanya menekuni kagum
Tiap untaian makna buatku tertegun

Saat ini tiap gemericik yang ku dengar
Bagaikan ribuan perasaan telah terlisan
Mendengarnya membuatku meninggikan segala mimpi
Segala mimpi yang tertahan sedang kumimpikan lagi
Namun keteduhan ini, aku sadar tidak sedang bermimpi

Saat ini memang nyata, dingin ini, suara ini
Rentangan tangan menggapai hujan mengundang suka
Dan sukapun menggenggamku dengan pongahnya
Aku ricuh
Kembali lagi kepada makna yang memudarkan mimpi
Bagaimana bisa?

Us


Kisahku dengan dia sudah berjalan ke umur 4 tahun. Tidak ada tanggal perayaan memang. Walaupun aku sudah menjalin hubungan yang disebut orang lain “pacaran”, ada di sisi otakku yang menyempatkan pikiran kalau aku masih sendiri. Mungkin itu hanya ruang ke-aku-an-ku yang tidak mau diganggu oleh urusan percintaan. Memang aku tidak suka berlarut-larut dalam hal seperti itu. Kecenderungan berpikir tentang perasaan orang lain seringkali menimbulkan Tanya-jawab yang sesat tak berujung. Sering juga aku memandang hubunganku ini seolah aku melihat orang lain yang menjalaninya. Membuatku dapat menilai mana yang aneh, mana yang payah, mana yang kacau, mana yang konyol, mana yang tidak penting, danmana yang bijaksana.
Sejujurnya aku kadang tidak paham apa yang terjadi di antara kita. Ini suatu ketololan percintaan atau apa. Aku dan dia, mengomentari percintaan anak SMP/SMA dan bilang bahwa mereka cupu. Sedangkan kita sendiri dalam menjalaninya pernah juga berlagak seperti itu. Sengaja atau tidak. Dewasa dan menjadi kecil dihadapan aku dan dia sudah sering terjadi.
Aku tidak tahu apa yang merasuki pikiranku sehingga aku ingin sekali menulis ini. 4 tahun itu tidak lama. Awal aku menjalin komitmen untuk bersama sudah sejak awal masuk universitas kurasa. Jadi waktu itu kita memang tidak ada kata jadian, namun mau bersama. Konyol yah mendengar kata “komitmen” seolah kita akan bersama selamanya. But actually we’re fight for it! Tapi dalam 4 tahun itu banyak sekali kejadian. Perubahan pikiran. Mungkin apa yang aku alami ini terlihat konyol. Tapi aku berani taruhan kalau pengalamanku ini juga dialami oleh kebanyakan pasangan di seluruh Indonesia. Eh tapi itu, Mungkin ( .__.)
Jadi dulu kita mau satu sama lain. Aku sih tidak malu buat bilang seperti itu. Toh dia juga mau kan? Jadi kita anggap itu pacaran. Nah disini kita juga mengalami saat-saat dimana kita melarang satu sama lain loh. Seperti dilarang pulang malam, dilarang nongkrong kalau aku cewe sendirian, dilarang memakai celana pendek, dilarang chat sama si Itu, dilarang ketemu sama si Anu, dan larangan-larangan lainnya. Sedangkan kalau larangan untuk dia seperti, dilarang merokok, dilarang ngebut(ini dapat toleransi karena aku juga kadang begitu), dan dilarang apalagi ya? Entah aku sih tidak terlalu banyak melarang dia. Kenapa begitu, karena antara aku dan dia, menurut dia justru akulah yang rawan. Rawan untuk melakukan kesalahan. Iya memang selama umur kita menjalani hubungan ini aku banyak salahnya. Namun bukan berarti dia tidak. Justru dia ini lucu. Ya lucu kalau missal orang lain yang mengalaminya. Tapi tidak kalau untukku. Karena aku terbiasa melihat keadaanku bagaikan orang lain yang mengalaminya, maka aku juga terbiasa menertawakan diriku sendiri. Aku tidak mempermasalahkan hal itu sih. Dia ini suka membandingkan diriku dengannya. Aku bingung. Dia cenderung ke arah “kemapanan” sedangkan aku masih dengan diriku sendiri.

Another Reflection


Masih ingat kisah tentang pantulan itu? Aku sadar saat itu kurasa kurang bisa mengendalikan kehilangan. Harusnya aku banyak belajar. Karena sebelumnya pantulan itu memang suka datang dan pergi begitu saja. Dia yang menemukanku, bukan?. Tentu dia bisa singgah lantas meninggalkanku dengan pongahnya. Dan setelah apa yang aku ungkap kini harusnya bisa ditebak. Iya. Pantulan itu muncul lagi. Seperti biasa celotehnya kali ini begitu mengenang. Dan aku masih tergila-gila mendengarnya. Its my Precious.

Ada saat, dulu, tentang pantulan lainnya. Yang kukira akan sama indahnya dengan pantulan sebelumnya. Tapi tidak. Pantulan yang itu buram. Dia sama-sama menemukanku. Namun dengan cara yang berbeda. Aku punya tanya-jawab sendiri untuk pantulan ini. Sesungguhnya aku tidak mau repot-repot memikirkan pantulan ini. Tidak penting memang. Namun sama halnya dengan pantulan yang pertama, pantulan ini membuatku tertarik. Tahukah bahwa aku yang telah pingsan di dalamnya sekarang sudah terbiasa menikmatinya? Menikmati keadaan yang mungkin sebenarnya tidak tulus. Lantas kenapa aku menikmatinya? Karena aku terlampau tertarik pada pantulan itu. Sekarang pantulan ini yang hilang. Sekejap. Begitu saja. Aku tak acuh. Pikirnya akan ku tanya mengapa pantulan itu memudar, begitu? Tidak, aku tidak bertanya. Ingin hati seperti itu namun kali ini perasaan mau bersahabat dengan kenyataan. Dan kurasa kali ini aku mampu mengendalikan kehilangan. Cumbuan pantulan itu masih sekilas terlihat dan aku menyadari sesuatu. Daya ingatku akan pantulan ini terkadang menyiksaku di pagi hari. Namun hati sudah bersahabat dengan otak. Karena memang sudah terlanjur bercumbu namun tetap harus rela melepas pantulan itu. Dan kulepas sudah kepada tiap cermin, air, dan segala sesuatu yang dapat menarik pantulan itu keluar. Aku tidak berdoa untuk pantulan ini. Tidak. Hanya melepas saja, kurasa cukup dengan itu.