Nuansa Hujan di Serentang Tangan


Saat ini serdadu dari langit turun
Aku merasakan deras aliran makna
Tak ada rugi, tak ada sesal
Tak ada malu, hanya menekuni kagum
Tiap untaian makna buatku tertegun

Saat ini tiap gemericik yang ku dengar
Bagaikan ribuan perasaan telah terlisan
Mendengarnya membuatku meninggikan segala mimpi
Segala mimpi yang tertahan sedang kumimpikan lagi
Namun keteduhan ini, aku sadar tidak sedang bermimpi

Saat ini memang nyata, dingin ini, suara ini
Rentangan tangan menggapai hujan mengundang suka
Dan sukapun menggenggamku dengan pongahnya
Aku ricuh
Kembali lagi kepada makna yang memudarkan mimpi
Bagaimana bisa?

Us


Kisahku dengan dia sudah berjalan ke umur 4 tahun. Tidak ada tanggal perayaan memang. Walaupun aku sudah menjalin hubungan yang disebut orang lain “pacaran”, ada di sisi otakku yang menyempatkan pikiran kalau aku masih sendiri. Mungkin itu hanya ruang ke-aku-an-ku yang tidak mau diganggu oleh urusan percintaan. Memang aku tidak suka berlarut-larut dalam hal seperti itu. Kecenderungan berpikir tentang perasaan orang lain seringkali menimbulkan Tanya-jawab yang sesat tak berujung. Sering juga aku memandang hubunganku ini seolah aku melihat orang lain yang menjalaninya. Membuatku dapat menilai mana yang aneh, mana yang payah, mana yang kacau, mana yang konyol, mana yang tidak penting, danmana yang bijaksana.
Sejujurnya aku kadang tidak paham apa yang terjadi di antara kita. Ini suatu ketololan percintaan atau apa. Aku dan dia, mengomentari percintaan anak SMP/SMA dan bilang bahwa mereka cupu. Sedangkan kita sendiri dalam menjalaninya pernah juga berlagak seperti itu. Sengaja atau tidak. Dewasa dan menjadi kecil dihadapan aku dan dia sudah sering terjadi.
Aku tidak tahu apa yang merasuki pikiranku sehingga aku ingin sekali menulis ini. 4 tahun itu tidak lama. Awal aku menjalin komitmen untuk bersama sudah sejak awal masuk universitas kurasa. Jadi waktu itu kita memang tidak ada kata jadian, namun mau bersama. Konyol yah mendengar kata “komitmen” seolah kita akan bersama selamanya. But actually we’re fight for it! Tapi dalam 4 tahun itu banyak sekali kejadian. Perubahan pikiran. Mungkin apa yang aku alami ini terlihat konyol. Tapi aku berani taruhan kalau pengalamanku ini juga dialami oleh kebanyakan pasangan di seluruh Indonesia. Eh tapi itu, Mungkin ( .__.)
Jadi dulu kita mau satu sama lain. Aku sih tidak malu buat bilang seperti itu. Toh dia juga mau kan? Jadi kita anggap itu pacaran. Nah disini kita juga mengalami saat-saat dimana kita melarang satu sama lain loh. Seperti dilarang pulang malam, dilarang nongkrong kalau aku cewe sendirian, dilarang memakai celana pendek, dilarang chat sama si Itu, dilarang ketemu sama si Anu, dan larangan-larangan lainnya. Sedangkan kalau larangan untuk dia seperti, dilarang merokok, dilarang ngebut(ini dapat toleransi karena aku juga kadang begitu), dan dilarang apalagi ya? Entah aku sih tidak terlalu banyak melarang dia. Kenapa begitu, karena antara aku dan dia, menurut dia justru akulah yang rawan. Rawan untuk melakukan kesalahan. Iya memang selama umur kita menjalani hubungan ini aku banyak salahnya. Namun bukan berarti dia tidak. Justru dia ini lucu. Ya lucu kalau missal orang lain yang mengalaminya. Tapi tidak kalau untukku. Karena aku terbiasa melihat keadaanku bagaikan orang lain yang mengalaminya, maka aku juga terbiasa menertawakan diriku sendiri. Aku tidak mempermasalahkan hal itu sih. Dia ini suka membandingkan diriku dengannya. Aku bingung. Dia cenderung ke arah “kemapanan” sedangkan aku masih dengan diriku sendiri.

Tidak Tahu..


Harusnya ini bisa jadi ungkapan yang mudah diungkapkan. Aku masih tertegun tiap kali harus mencoba menuliskan apa yang terjadi dengan mengabaikan kenyataan yang ada. Kata-kata yang terlintas seringkali langsung menuju kepada kenyataan. Aku masih kesusahan. Kucoba selalu untuk memamerkan perasaan. Namun apa? Saking nyatanya apa yang aku alami sudah terlampau kuat mengisi rangkaian kataku. Geli rasanya jika merasakan keindahan yang telah kualami tanpa bisa menyatakannya. Rasanya hatiku tersumbat, Aku bisanya hanya dengan cara bercerita langsung. Dengan sedikit mendongeng. Dan tatapan menerawang seolah apa yang aku ucapkan hanyalah sekedar imajinasiku saja. Namun setelahnya aku bercerita dengan demikian aku merasa telah menyampaikan segala keindahan yang telah kualami. Kepada siapapun. Kisah apapun.

Aku mencintai dongeng. Apapun itu. Aku tahu aku tidak bisa merubah segala kejadian menjadi sebuah dongeng. Karena itu semua sudah aku alami. Aku tidak bisa merangkai kata-kata sedemikian rupa hingga tulisanku terbaca seperti sebuah novel. Namun saat tiba waktunya aku menceritakan kisahku kepada orang lain, yang kuanggap dia pembaca kisahku, aku bagaikan pendongeng dengan sejuta kisah fantasi di otakku. Dengan segala informasi. Segala kejadian. Seperti itulah aku.

Aku telah ditemukan dengan sebuah cermin yang kukira bisa kulihat pantulan seperti diriku disana. Aku bertemu dengannya. Kita terlihat sama. Kubilang apa tadi? Sebuah cermin. Sesuka hatinya untuk memberitahukan segala hal yang kuanggap absurd. Walaupun hingga sekarang masih jauh dari kenyataan namun kisah darinya sangat memuaskan. Celotehnya tanpa kuminta begitu deras keluar bagai tangisan seorang bocah yang menangis jika disuruh untuk tidur siang. Pantulan kisah itu kadang tidak dapat dikira-kira kapan bisa terlihat. Dia bercerita entah tiada waktu untuk diriku tahu kapan dia akan bercerita. Terlampau sering. Sudah menjadi candu kurasa. Terkadang aku terdiam hanya sekedar untuk menunggu pantulan itu. Kadang juga diriku yang memancing agar pantulannya bisa kulihat. Namun sekarang rasanya sudah tidak ada pantulan lagi. Padahal cermin itu yang menemukanku. Pantulan dari cermin itu sudah buram. Yang tertinggal hanya desakan suara-suara celoteh yang kadang terdengar. Temaram. Terkadang secara tidak sengaja kulihat pantulan pada jam yang sama kulihat pantulan dulunya. Tapi itu hanya pantulan ingatan saja. Tidak benar-benar pantulan. Cermin itu, dia, sekarang ku tahu sedang berada di posisi entah. Sedangkan posisiku masih disini. Sakit. Karena sepertinya cermin itu hanya imajinasiku saja. Dia memantulkan apa yang ingin aku lihat. Dan mendapatkan momen dimana diriku senang akan pantulannya. Hanya itu. Kurasa itu tindakan terjahat yang pernah aku dapat. Namun karena dia yang menemukanku, dia pikir dia bisa pergi seperti itu? Hm, aku tidak memusingkan hal itu. Karena kudapati diriku sendiri telah gila dalam imajiku sendiri. Tentang cermin itu. Tentang dia.

Seperti itukah harusnya aku menuliskan sebuah kisah? Atau tulisan tadi juga masih terkesan realitanya padahal itu hanya imajinasiku saja? Aku tahu tidak bisa merubah kenyataan menjadi sebuah dongeng karena aku telah mengalaminya. Namun aku tetap saja tergila-gila dengan dongeng. Lantas bagaimana?

It Could Be Like A Food Chain


Yang kuat bertahan, yang lemah tertindas.

Mari aku kasih lihat suasana suaka rental ku dirumah.

Setiap bocah kecil sekitar kelas 4 SD kebawah, mari kita sebut Lil. Mereka yang umurnya kira-kira anak kelas 4-5 SD hingga SMP kelas 2, sebut saja mereka Mid. Sedangkan yang lebih tua dari Lil dan Mid disebut Eld.

Seperti itulah skema mereka yang berada di dalam suaka. Untuk kaum Lil yang mendatangi suaka ada bermacam-macam. Ada yang masih sangat rentan. Ada yang sudah bisa berekspresi sendiri. Dan ada pula yang sudah berada dibawah pimpinan salah satu kaum Mid.

Ada saat mereka para kaum Lil datang untuk sekedar menjajahkan imajinasi mereka terhadap dunia game. Namun sebelumnya area penjajahan itu sudah terlebih diduduki oleh kaum Mid. Mereka kaum Mid, di suaka ini, mayoritas congkak. Mereka kaum Mid ini memang tidak semuanya bersahabat. Namun mereka licik dan gampang untuk mencari sekutu antar kaum Mid. Kaum Lil yang mencoba untuk menduduki area penjajahan selalu saja tertindas oleh kaum Mid. Padahal masa menjajah untuk kaum Mid telah habis. Namun kaum Mid masih lapar akan imajinasi sehingga tidak hanya dunia game yang dia jajah, tapi kaum Lil juga. Well, my sanctuary my rules. Aku bukan pemimpim, namun aku adalah penyeimbang. Melihat kaum Lil yang tertindas memang membuat hati ini teriris. Watak dari kaum Mid ini memang congkak. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk menindas satu sama lain antar kaum Mid. Namun untuk kasus saling tindas antar kaum Mid ini, aku, sama sekali tidak peduli. Untuk sekedar melihat apa yang terjadi di dalam suaka memanglah keras. Tapi begitulah siklus. Begitulah skemanya. Saat kaum Lil yang sedang menjajahkan imajinasinya tiba-tiba mereka dipanggil atasannya untuk kembali ke peradaban, maka masa menjajah untuk kaum Lil sudah tidak terpakai lagi. Tidak jarang mereka kaum Mid langsung mengambil alih bahkan memaksa jika kaum Lil tidak segera pergi ke peradaban.

Kaum Eld disini tidak terlalu terlihat. Namun sangat dihormati. Sebanyak apapun kaum Mid di dalam suaka, tetap saja ada tempat untuk kaum Eld. Mereka kaum Eld memang tidak selalu datang ke suaka. Kaum Mid lah yang terlampau sering memporak-porandakan isi suaka.

Yang kuat bertahan, yang lemah tertindas.

Ungkapan itupun secara tidak langsung sudah menggambarkan isi dalam suaka.

ps : ini hanya imajinasi penulis sekedar menggambarkan keganasan bocah jaman sekarang terhadap teman main dan orang sekitarnya yang terjadi dalam rental ps saya. true story.

Surat Untuk Siapa


Aku bangun dan masih bermimpi.

Bagaimana jika aku menemukan surat yang ditujukan kepada siapa.

Mengatakan akan kejadian suatu masa yang akan merubahku menjadi siapa.

Tertulis di lipatan amplop berwarna coklat seperti kertas buku yang telah lama tertutup.

Masih kuragukan aku ingin membacanya atau tidak.

Mengingat aku masih ingin bermimpi namun kepada siapa surat ini ditujukan pun sebenarnya aku ingin tahu.

Aku ingin memainkan kata-kata di surat itu.

Bagaimana jika aku saja yang menulis suratnya.

Dan menujukan surat itu kepada siapa.

Tapi ternyata aku masih bermimpi.

Oleh karenanya aku tidak perlu menulis surat itu.

Isi suratnya mampu menyesuaikan seperti aku ingin membaca apa.

Aku ingin hilang ingatan.

Di mimpiku itu kudapati diriku hilang ingatan.

Semua kisah yang telah ku baca ingin aku simpan saja.

Tidak perlu muncul lagi.

Tidak. Continue reading