Another Reflection


Masih ingat kisah tentang pantulan itu? Aku sadar saat itu kurasa kurang bisa mengendalikan kehilangan. Harusnya aku banyak belajar. Karena sebelumnya pantulan itu memang suka datang dan pergi begitu saja. Dia yang menemukanku, bukan?. Tentu dia bisa singgah lantas meninggalkanku dengan pongahnya. Dan setelah apa yang aku ungkap kini harusnya bisa ditebak. Iya. Pantulan itu muncul lagi. Seperti biasa celotehnya kali ini begitu mengenang. Dan aku masih tergila-gila mendengarnya. Its my Precious.

Ada saat, dulu, tentang pantulan lainnya. Yang kukira akan sama indahnya dengan pantulan sebelumnya. Tapi tidak. Pantulan yang itu buram. Dia sama-sama menemukanku. Namun dengan cara yang berbeda. Aku punya tanya-jawab sendiri untuk pantulan ini. Sesungguhnya aku tidak mau repot-repot memikirkan pantulan ini. Tidak penting memang. Namun sama halnya dengan pantulan yang pertama, pantulan ini membuatku tertarik. Tahukah bahwa aku yang telah pingsan di dalamnya sekarang sudah terbiasa menikmatinya? Menikmati keadaan yang mungkin sebenarnya tidak tulus. Lantas kenapa aku menikmatinya? Karena aku terlampau tertarik pada pantulan itu. Sekarang pantulan ini yang hilang. Sekejap. Begitu saja. Aku tak acuh. Pikirnya akan ku tanya mengapa pantulan itu memudar, begitu? Tidak, aku tidak bertanya. Ingin hati seperti itu namun kali ini perasaan mau bersahabat dengan kenyataan. Dan kurasa kali ini aku mampu mengendalikan kehilangan. Cumbuan pantulan itu masih sekilas terlihat dan aku menyadari sesuatu. Daya ingatku akan pantulan ini terkadang menyiksaku di pagi hari. Namun hati sudah bersahabat dengan otak. Karena memang sudah terlanjur bercumbu namun tetap harus rela melepas pantulan itu. Dan kulepas sudah kepada tiap cermin, air, dan segala sesuatu yang dapat menarik pantulan itu keluar. Aku tidak berdoa untuk pantulan ini. Tidak. Hanya melepas saja, kurasa cukup dengan itu.

Ketidak Sopanan Dingin


Entah ribuan kata sudah berdesakan di kepala sepertinya.

Kisahku, kisah membawaku ke tanah itu. Jogja. Bayangkan aku yang terlihat meragukan mendapatkan ijin dari orang tua untuk pergi keluar kota. Dengan lelaki yang entah aku harus menyebutnya apa selain pacar. Dengan dia, Aldhi. Ya Tuhan sudah berapa lama aku dengan dia dan kisahku membawa kita ke tanah Jogja. Jika aku berlebihan menceritakan hal ini biarlah. Aku memang pongah dalam bercerita.
Suatu hal yang menurutku tidak mungkin. Tidak semudah itu untuk mendapatkan ijin dari orang tua karena ini memang benar-benar orang tua.
Dia yang mengajakku, entah bagaimana aku harus membantu Dia saat menit-menit menjelang kereta malam berangkat waktu itu. Aku paham jika Dia melakukan kesalahan. Ya siapa yang mengira sepandai-pandainya orang mengatur sesuatu akan ada saja hal, bahkan sekecil apapun, yang menjatuhkan rencana orang tersebut. Namun malam itu hal yang dikira akan menjatuhkan rencana dapat diatasi. Dan aku tidak bisa membantu. Dia paham. Kita sama-sama paham. Dia menangis. Aku mencium pipinya. Tidak lama aku tidur, Dia menyempatkan memakaikan selimut untukku. Suasana kereta malam saat itu memang dingin. Dinginnya Jogja terbawa hingga kita kembali ke Surabaya. Dingin itu menemani kita dengan tidak sopannya.
Aku ingin membalas Dia tapi tidak tahu bagaimana.

Terima kasih atas kisahku.
2014 Feb 16, Sun 11:33 PM

Sipil’10 SUPER SOLID @@


again…….sync like a boss….

Catatansianaksipil's Blog

Jadi begini, aku memang sudah lama tidak posting di blog ini. Tapi masih aktif di blog yang satunya 😛 Tapi untuk data kuliah seperti materi, tugas, dan lain-lain aku sudah mulai membuat index sendiri di laptopku. Dan untuk kegiatan perkuliahanku selama ini tidak banyak. Yang terakhir aku post itu masih saat KKN. Ada page sendiri untuk itu. Lalu selanjutnya karena aku belum mengikuti Study Excursie maka aku berangkat ke Bandung bareng adik kelas. Untuk postnya itu aku reblog dari blogku yang satunya hehe :-D.

Dan yang baru ini aku dengan keluarga besar Teknik Sipil angkatan 2010 mengikuti Outbond. Wkwkwkkwkw kenapa di umur kami yang sudah memasuki Semester 7 ini masih saja mengikuti kegiatan seperti ini?! Kisahnya dulu itu sewaktu kami usai PP&K tidak ada Outbond. Pihak jurusan tidak mengadakan Outbond saat kami masih semester awal. Lantas diadakan kembali usai penerimaan mahasiswa baru tahun 2011. Outbondnya digabung dengan adik kelas waktu…

View original post 91 more words

Study Excursie Teknik Sipil Di Kota Priangan


Tanggal 10 September 2013, pukul entah pokoknya sudah lumayan larut malam. Rencana sih mau ke Dago. Aku, Hindah, mas Yayan, Dedi, dan lima adik kelasku angkatan 2012. Kita paginya melakukan Study Excursie Teknik Sipil di Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman di Cileunyi, Bandung.

Camera 360

Setelahnya dari Puslitbang Permukiman kami diarahkan ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kuliah lapangan disitu sedang membahas pembangunan proyek gedung kampus UIN. Tender dimenangkan oleh PT. PP(Persero) Tbk. jadi sesi tanya jawab pun ditujukan kepada pihak yang bersangkutan. Mengingat tentang PT. PP, besok aku sudah harus magang di salah satu proyek mereka di Surabaya. Sedikit ragu. Entah kenapa suasana seperti membawaku ke lima tahun yang lalu saat aku kelas dua SMK.

Setelah makan malam di rumah makan Ampera kita bersembilan ingin jalan-jalan keliling Bandung. Yang secara harfiah memang berarti “jalan-jalan”. Kita sih tidak tahu jalan memang. Temanku, sebut saja Hindah, sebelumnya pernah ke Bandung. Dia mengajak kita ke Dago. Ok. We’re in! Naik bemo kita kesana. Dengan tawar-menawar akhirnya supir bemo setuju juga. Rp 60.000 = booked!

Sampai Unpadj kita diberhentikan. Jadi keadaan Dago itu tidak jauh berbeda dengan keadaan sekitar kampus UWK di dekat rumahku di Surabaya sini. Yah rame sih. Sama-sama rame yang kukira kebanyakan mereka itu orang-orang kampus dari universitas itu sendiri. Perbedaannya adalah di Dago semakin keatas semakin banyak tempat yang dituju. Dan memang rame disitu. Namun keadaan disana tidak seperti yang aku dan teman-teman bayangkan. Akhirnya kita naik bemo lagi menuju Dago Plaza yang ternyata sudah tutup! WTF! Itu keadaan jam sudah larut malam. Dan kita kehilangan arah tujuan, awalnya. Sampai akhirnya kita mengalami sesi dimana “jalan-jalan” memang seperti apa adanya. Jadi kita jalan sedari Dago Plaza sampai entah jalan apa pokoknya menuju ke Gedung Sate. That’s something.

Photo0817 Continue reading

Tidak Tahu..


Harusnya ini bisa jadi ungkapan yang mudah diungkapkan. Aku masih tertegun tiap kali harus mencoba menuliskan apa yang terjadi dengan mengabaikan kenyataan yang ada. Kata-kata yang terlintas seringkali langsung menuju kepada kenyataan. Aku masih kesusahan. Kucoba selalu untuk memamerkan perasaan. Namun apa? Saking nyatanya apa yang aku alami sudah terlampau kuat mengisi rangkaian kataku. Geli rasanya jika merasakan keindahan yang telah kualami tanpa bisa menyatakannya. Rasanya hatiku tersumbat, Aku bisanya hanya dengan cara bercerita langsung. Dengan sedikit mendongeng. Dan tatapan menerawang seolah apa yang aku ucapkan hanyalah sekedar imajinasiku saja. Namun setelahnya aku bercerita dengan demikian aku merasa telah menyampaikan segala keindahan yang telah kualami. Kepada siapapun. Kisah apapun.

Aku mencintai dongeng. Apapun itu. Aku tahu aku tidak bisa merubah segala kejadian menjadi sebuah dongeng. Karena itu semua sudah aku alami. Aku tidak bisa merangkai kata-kata sedemikian rupa hingga tulisanku terbaca seperti sebuah novel. Namun saat tiba waktunya aku menceritakan kisahku kepada orang lain, yang kuanggap dia pembaca kisahku, aku bagaikan pendongeng dengan sejuta kisah fantasi di otakku. Dengan segala informasi. Segala kejadian. Seperti itulah aku.

Aku telah ditemukan dengan sebuah cermin yang kukira bisa kulihat pantulan seperti diriku disana. Aku bertemu dengannya. Kita terlihat sama. Kubilang apa tadi? Sebuah cermin. Sesuka hatinya untuk memberitahukan segala hal yang kuanggap absurd. Walaupun hingga sekarang masih jauh dari kenyataan namun kisah darinya sangat memuaskan. Celotehnya tanpa kuminta begitu deras keluar bagai tangisan seorang bocah yang menangis jika disuruh untuk tidur siang. Pantulan kisah itu kadang tidak dapat dikira-kira kapan bisa terlihat. Dia bercerita entah tiada waktu untuk diriku tahu kapan dia akan bercerita. Terlampau sering. Sudah menjadi candu kurasa. Terkadang aku terdiam hanya sekedar untuk menunggu pantulan itu. Kadang juga diriku yang memancing agar pantulannya bisa kulihat. Namun sekarang rasanya sudah tidak ada pantulan lagi. Padahal cermin itu yang menemukanku. Pantulan dari cermin itu sudah buram. Yang tertinggal hanya desakan suara-suara celoteh yang kadang terdengar. Temaram. Terkadang secara tidak sengaja kulihat pantulan pada jam yang sama kulihat pantulan dulunya. Tapi itu hanya pantulan ingatan saja. Tidak benar-benar pantulan. Cermin itu, dia, sekarang ku tahu sedang berada di posisi entah. Sedangkan posisiku masih disini. Sakit. Karena sepertinya cermin itu hanya imajinasiku saja. Dia memantulkan apa yang ingin aku lihat. Dan mendapatkan momen dimana diriku senang akan pantulannya. Hanya itu. Kurasa itu tindakan terjahat yang pernah aku dapat. Namun karena dia yang menemukanku, dia pikir dia bisa pergi seperti itu? Hm, aku tidak memusingkan hal itu. Karena kudapati diriku sendiri telah gila dalam imajiku sendiri. Tentang cermin itu. Tentang dia.

Seperti itukah harusnya aku menuliskan sebuah kisah? Atau tulisan tadi juga masih terkesan realitanya padahal itu hanya imajinasiku saja? Aku tahu tidak bisa merubah kenyataan menjadi sebuah dongeng karena aku telah mengalaminya. Namun aku tetap saja tergila-gila dengan dongeng. Lantas bagaimana?

It Could Be Like A Food Chain


Yang kuat bertahan, yang lemah tertindas.

Mari aku kasih lihat suasana suaka rental ku dirumah.

Setiap bocah kecil sekitar kelas 4 SD kebawah, mari kita sebut Lil. Mereka yang umurnya kira-kira anak kelas 4-5 SD hingga SMP kelas 2, sebut saja mereka Mid. Sedangkan yang lebih tua dari Lil dan Mid disebut Eld.

Seperti itulah skema mereka yang berada di dalam suaka. Untuk kaum Lil yang mendatangi suaka ada bermacam-macam. Ada yang masih sangat rentan. Ada yang sudah bisa berekspresi sendiri. Dan ada pula yang sudah berada dibawah pimpinan salah satu kaum Mid.

Ada saat mereka para kaum Lil datang untuk sekedar menjajahkan imajinasi mereka terhadap dunia game. Namun sebelumnya area penjajahan itu sudah terlebih diduduki oleh kaum Mid. Mereka kaum Mid, di suaka ini, mayoritas congkak. Mereka kaum Mid ini memang tidak semuanya bersahabat. Namun mereka licik dan gampang untuk mencari sekutu antar kaum Mid. Kaum Lil yang mencoba untuk menduduki area penjajahan selalu saja tertindas oleh kaum Mid. Padahal masa menjajah untuk kaum Mid telah habis. Namun kaum Mid masih lapar akan imajinasi sehingga tidak hanya dunia game yang dia jajah, tapi kaum Lil juga. Well, my sanctuary my rules. Aku bukan pemimpim, namun aku adalah penyeimbang. Melihat kaum Lil yang tertindas memang membuat hati ini teriris. Watak dari kaum Mid ini memang congkak. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk menindas satu sama lain antar kaum Mid. Namun untuk kasus saling tindas antar kaum Mid ini, aku, sama sekali tidak peduli. Untuk sekedar melihat apa yang terjadi di dalam suaka memanglah keras. Tapi begitulah siklus. Begitulah skemanya. Saat kaum Lil yang sedang menjajahkan imajinasinya tiba-tiba mereka dipanggil atasannya untuk kembali ke peradaban, maka masa menjajah untuk kaum Lil sudah tidak terpakai lagi. Tidak jarang mereka kaum Mid langsung mengambil alih bahkan memaksa jika kaum Lil tidak segera pergi ke peradaban.

Kaum Eld disini tidak terlalu terlihat. Namun sangat dihormati. Sebanyak apapun kaum Mid di dalam suaka, tetap saja ada tempat untuk kaum Eld. Mereka kaum Eld memang tidak selalu datang ke suaka. Kaum Mid lah yang terlampau sering memporak-porandakan isi suaka.

Yang kuat bertahan, yang lemah tertindas.

Ungkapan itupun secara tidak langsung sudah menggambarkan isi dalam suaka.

ps : ini hanya imajinasi penulis sekedar menggambarkan keganasan bocah jaman sekarang terhadap teman main dan orang sekitarnya yang terjadi dalam rental ps saya. true story.

Yesterday. And I Know It.


8 Agustus 2013

Sudah lewat dari tengah malam. Sebenarnya aku mau post ini kemarin. Tapi aku tidak ada passion. Tanggal 8 Agustus tahun ini banyak kesannya. Banyak hal yang membuat tanggal 8 Agustus kemarin terasa spesial. Awal tahun dimana aku sudah mengawali masa pelepasan umur 20 ku. Banyak hal yang telah terjadi. Sepertinya Tuhan telah mengabulkan permintaanku :). Setahun yang lalu kurasa kisahku semacam cerita fiksi yang tidak disangka-sangka endingnya akan seperti apa. Tanggal 8 Agustus ini, akan aku kasih tahu bagaimana ini terasa spesial :

  1. Tahun lalu aku menggunakan smartphone yang sekarang sudah tiada :(. Awal aku belajar untuk mengoprek handheld itu kebetulan tanggal 8 Agustus 2012. Wkwkwkwk hanya kebetulan memang. Aku kirim PM di kaskus dan dia memberikan respon baik. Sampai akhirnya aku masuk grup handheld di facebook. Dan aku jadi admin disitu sudah lebih dari 10 bulan.
  2. Tanggal 8 Agustus sudah dinyatakan oleh pemerintah sebagai hari Raya Idul Fitri tahun ini. Dan itu adalah tanggal lahirku. Dan itu berarti entah kenapa kok rasanya itu benar-benar berarti.
  3. Itu merupakan hari raya ketiga sedangkan aku masih sama Aldhi sekarang 🙂
  4. Aku mendapatkan nilai IPS 3.525. Kenapa aku anggap itu berarti?? Karena itu adalah nilai tertinggi yang pernah aku dapat selama 6 semester ini. WKwkwkkwkw
  5. Aku sekarang berumur 21 tahun.

Mungkin itu tidak terlalu spesial. Atau mungkin hanya aku saja yang berlebihan. Wkwkwkwkw don’t care, just share :D.

9 Agustus 2013

Aku sudah banyak berkisah tentang tanggal lahirku saat ada teman yang membahas tentang ulang tahun. Jadi begini kisahnya. Aku sebenarnya lahir pada tanggal 8 Agustus 1992 di Surabaya. Tapi, di akta kelahiran tertulis tanggal 9 Agustus 1992 di Malang. Kenapa bisa seperti itu?? Ternyata, keadaan keluargaku sedari dulu memang tidak bisa dibilang berkecukupan. Jadi orang tuaku mengurus akta kelahiran di kota Malang, kota dimana bapakku berasal. Yah dengan asumsi bahwa mengurus disana lebih murah ketimbang di kota Surabaya. Tapi payah jadinya tanggalnya berubah, entah kenapa. Kesalahan tidak hanya pada tanggal tapi juga kota kelahiranku. Mungkin kalau untuk kota, itu semacam manipulasi agar bisa mengurus disitu. Sekalinya ibuk mau benerin pas lagi di Surabaya, masih saja tanggal dan kota kelahiranku masih salah. Jadi yah sudahlah. Alhasil untuk kartu pelajarku mulai dari SMP sampai SMK kalau lihat tempat dan tanggal lahir jadi males bawaannya. Kalau sudah begitu pasti kebawa sampai KTP, ijazah, SIM, dan lain-lain.

Untuk tahun-tahun sebelumnya, aku, pada tanggal seperti ini, Aldhi entah ada saja cara untuk mengingat tanggal ini. Tidak penting memang untuk merayakan hal seperti ini. Dan dia sedang berada di pantai saat aku dapat notif chat darinya tadi. Have fun, darl!!

Well, sekarang aku sudah berumur 21 tahun yang aku masih belum tahu harus bagaimana.