Study Excursie Teknik Sipil Di Kota Priangan


Tanggal 10 September 2013, pukul entah pokoknya sudah lumayan larut malam. Rencana sih mau ke Dago. Aku, Hindah, mas Yayan, Dedi, dan lima adik kelasku angkatan 2012. Kita paginya melakukan Study Excursie Teknik Sipil di Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman di Cileunyi, Bandung.

Camera 360

Setelahnya dari Puslitbang Permukiman kami diarahkan ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kuliah lapangan disitu sedang membahas pembangunan proyek gedung kampus UIN. Tender dimenangkan oleh PT. PP(Persero) Tbk. jadi sesi tanya jawab pun ditujukan kepada pihak yang bersangkutan. Mengingat tentang PT. PP, besok aku sudah harus magang di salah satu proyek mereka di Surabaya. Sedikit ragu. Entah kenapa suasana seperti membawaku ke lima tahun yang lalu saat aku kelas dua SMK.

Setelah makan malam di rumah makan Ampera kita bersembilan ingin jalan-jalan keliling Bandung. Yang secara harfiah memang berarti “jalan-jalan”. Kita sih tidak tahu jalan memang. Temanku, sebut saja Hindah, sebelumnya pernah ke Bandung. Dia mengajak kita ke Dago. Ok. We’re in! Naik bemo kita kesana. Dengan tawar-menawar akhirnya supir bemo setuju juga. Rp 60.000 = booked!

Sampai Unpadj kita diberhentikan. Jadi keadaan Dago itu tidak jauh berbeda dengan keadaan sekitar kampus UWK di dekat rumahku di Surabaya sini. Yah rame sih. Sama-sama rame yang kukira kebanyakan mereka itu orang-orang kampus dari universitas itu sendiri. Perbedaannya adalah di Dago semakin keatas semakin banyak tempat yang dituju. Dan memang rame disitu. Namun keadaan disana tidak seperti yang aku dan teman-teman bayangkan. Akhirnya kita naik bemo lagi menuju Dago Plaza yang ternyata sudah tutup! WTF! Itu keadaan jam sudah larut malam. Dan kita kehilangan arah tujuan, awalnya. Sampai akhirnya kita mengalami sesi dimana “jalan-jalan” memang seperti apa adanya. Jadi kita jalan sedari Dago Plaza sampai entah jalan apa pokoknya menuju ke Gedung Sate. That’s something.

Photo0817 Continue reading

Advertisements

Yesterday. And I Know It.


8 Agustus 2013

Sudah lewat dari tengah malam. Sebenarnya aku mau post ini kemarin. Tapi aku tidak ada passion. Tanggal 8 Agustus tahun ini banyak kesannya. Banyak hal yang membuat tanggal 8 Agustus kemarin terasa spesial. Awal tahun dimana aku sudah mengawali masa pelepasan umur 20 ku. Banyak hal yang telah terjadi. Sepertinya Tuhan telah mengabulkan permintaanku :). Setahun yang lalu kurasa kisahku semacam cerita fiksi yang tidak disangka-sangka endingnya akan seperti apa. Tanggal 8 Agustus ini, akan aku kasih tahu bagaimana ini terasa spesial :

  1. Tahun lalu aku menggunakan smartphone yang sekarang sudah tiada :(. Awal aku belajar untuk mengoprek handheld itu kebetulan tanggal 8 Agustus 2012. Wkwkwkwk hanya kebetulan memang. Aku kirim PM di kaskus dan dia memberikan respon baik. Sampai akhirnya aku masuk grup handheld di facebook. Dan aku jadi admin disitu sudah lebih dari 10 bulan.
  2. Tanggal 8 Agustus sudah dinyatakan oleh pemerintah sebagai hari Raya Idul Fitri tahun ini. Dan itu adalah tanggal lahirku. Dan itu berarti entah kenapa kok rasanya itu benar-benar berarti.
  3. Itu merupakan hari raya ketiga sedangkan aku masih sama Aldhi sekarang 🙂
  4. Aku mendapatkan nilai IPS 3.525. Kenapa aku anggap itu berarti?? Karena itu adalah nilai tertinggi yang pernah aku dapat selama 6 semester ini. WKwkwkkwkw
  5. Aku sekarang berumur 21 tahun.

Mungkin itu tidak terlalu spesial. Atau mungkin hanya aku saja yang berlebihan. Wkwkwkwkw don’t care, just share :D.

9 Agustus 2013

Aku sudah banyak berkisah tentang tanggal lahirku saat ada teman yang membahas tentang ulang tahun. Jadi begini kisahnya. Aku sebenarnya lahir pada tanggal 8 Agustus 1992 di Surabaya. Tapi, di akta kelahiran tertulis tanggal 9 Agustus 1992 di Malang. Kenapa bisa seperti itu?? Ternyata, keadaan keluargaku sedari dulu memang tidak bisa dibilang berkecukupan. Jadi orang tuaku mengurus akta kelahiran di kota Malang, kota dimana bapakku berasal. Yah dengan asumsi bahwa mengurus disana lebih murah ketimbang di kota Surabaya. Tapi payah jadinya tanggalnya berubah, entah kenapa. Kesalahan tidak hanya pada tanggal tapi juga kota kelahiranku. Mungkin kalau untuk kota, itu semacam manipulasi agar bisa mengurus disitu. Sekalinya ibuk mau benerin pas lagi di Surabaya, masih saja tanggal dan kota kelahiranku masih salah. Jadi yah sudahlah. Alhasil untuk kartu pelajarku mulai dari SMP sampai SMK kalau lihat tempat dan tanggal lahir jadi males bawaannya. Kalau sudah begitu pasti kebawa sampai KTP, ijazah, SIM, dan lain-lain.

Untuk tahun-tahun sebelumnya, aku, pada tanggal seperti ini, Aldhi entah ada saja cara untuk mengingat tanggal ini. Tidak penting memang untuk merayakan hal seperti ini. Dan dia sedang berada di pantai saat aku dapat notif chat darinya tadi. Have fun, darl!!

Well, sekarang aku sudah berumur 21 tahun yang aku masih belum tahu harus bagaimana.

Mungkin Sekedar Mengabaikan Masa Kecil


Hei, baru saja aku mengalami bahwa pikiranku tertahan. Bingung kan? Sama.

Sebentar, aku belum pernah cerita kalau aku buka rental Play Station di rumah? Ok, that’s ma bad. Aku suka anak kecil namun tidak seperti ini. Anak-anak sekarang sudah beda. Terlampau beda dengan keadaanku yang dulu. Sudah banyak percakapan yang mengkritisi hal ini. 9gag, situs puwualing fun yang pernah aku kunjungi. Disana awal aku mulai paha perbedaan generasi kita. Aku lahir tahun 1992, yah dibilang saja tahun 90an. Itu sepertinya menjadi akhir masa paling bahagia yang terjadi pada abad ini. Aku terlahir sebagai perempuan dan tidak merasa keberatan dengan hal itu. Sungguh. Dan aku bangga! Jika kalian ingin tahu bagaimana caraku menghabiskan masa kecilku, berarti kalian menuntutku untuk pamer disini. Dan aku tidak keberatan sama sekali.

Sebisaku untuk show off disini. Jadi, seperti inilah kisah kecilku dulu :

  1. Aku cewe dimana suka sekali blowing imaginations as real as possible. Dengan bermain bongkar pasang, rumah-rumahan, masak-masakan, bermain rumah tangga-rumah tangga’an, perang-perangan, mati-matian, cinta-cintaan. Saat itu absurd tapi tiada yang lebih menyenangkan saat itu. Underwear. No, I mean “i swear”. Damn sweet minions!
  2. Suka sok berpetualang. Alias kelayapan. Susah disuruh tidur siang. Sering diam-diam kabur keluar rumah saat ibuk mulai terlelap. Dan lari-lari kesana kemari bareng teman-teman. Main ke kampung sebelah. Bersepeda kadang pakai sepatu roda. Paling sering lari sih. Cuma untuk kejar-kejaran. Metik bunga rumah orang. Lari lagi. Ambil buah dari rumah orang. Kemudian lari lagi. Disini bisa dibilang anak kecil itu keadaan dimana mereka bisa lari jika senang dan bahkan bisa lari jika ada masalah. Bener kan?
  3. Menganggap dirinya mempunyai hidup seperti di telenovela atau drama asia di televisi. Aku suka Amigos dan Meteor Garden, dulunya. Dan mempunyai teman kelas yang senasib. Akhirnya kita sama-sama mempunyai masalalu yang akan kita tertawakan kelak.
  4. Hei! Hei! namun disini dari kecil aku merasa sudah di didik untuk membuat kisah sendiri. Kesukaanku masih banyak dan itu sangat awesome menurutku. Anime saat itu melegenda. Continue reading

Sometime yang sering kali menjadi Everytime


Rutinitasku bulan puasa ini terlampau worthless. Mencoba untuk produktif dengan mengingat segala hal yang aku pelajari sendiri. Namun yang ada hanya jadi draft. Siklus hari ku sudah lebih dari 24 jam dan aku mulai tidak keberatan. Setiap jam malam tiba sudah pasti ada saja notifikasi di HPku. Entah itu chat di Whatsapp atau sms. Ah, sudah terbiasa. Ditinggal pacar tidur tapi mataku masih saja terjaga sekedar mengamati chat di grup atau chat dengan teman atau kakak kelas atau dosen atau yah siapa saja yang masih sadar. Sampai akhirnya aku merasa bahwa tidur satu jam saja sepertinya menyenangkan. Dan tidurlah aku.

Sebenarnya aku sudah mengklaim bahwa aku tiga tahun terakhir ini mempunyai belahan jiwa semacam Personal Computer. Maksudku benar-benar Computer. Bukan secara harfiah tentunya. Namun benar-benar Personal. Dia ini entah kenapa kok cuma dengan dia aku selalu mengalami masalah seperti i dunno how to chat. Padahal kalau dengan orang lain aku luwes saja chat semauku. DIa ini entah kenapa kok cuma dengan dia aku merasa sudah terlampau cukup. Okeh yang barusan tadi bukan masalah sebenarnya. Penyakit akut nomor 1 adalah dia orang yang kaku. Mengingat aku mengklaim diriku berpacaran degan PC. But that’s him. Ini bulan ramadhan ketiga dan dia masih denganku. Jika jatuh cinta itu berarti mendapati diriku cemburu terhadap ibunya, maka terjadilah sudah. Continue reading

Aku Masih Ingin Mempunyai Minions


Jika korban kisah fantasi kebanyakan ingin bertemu peri, aku malah ingin bertemu Minions.

Dua kisah yang terulang namun berbeda.

Despicable Me 1, Cinema XXI di Surabaya Town Square. Tiga tahun yang lalu. Menunggu. Pertama kali kita pergi nonton bareng setelah entah berapa bulan tidak bertemu. Mengembalikan hard disk saja dititipkan ke temannya. Pokoknya lelaki kaku yang pernah aku temui di ruang meeting di salah satu ISP Surabaya itu lumayan menarik perhatianku. Sudah kuduga memang dia tidak akan ikut mengembalikan hard disk. Entah yah, feeling. Film animasi itu membawa kami untuk bertemu lagi. Iyah memang saat itu masih malu-malu untuk mengungkapkan kalau ingin bersama. Namun bagaimana lagi sudah kentara dari senyum kami saat duduk berdua di KFC waktu itu. Yah sebenarnya tidak terlalu malu-malu juga sih. Dia yang kukenal kaku ternyata bisa kulihat senyum diwajahnya. Hanya aku. Biasanya kami kalau bertemu selalu ada teman kami. Tapi hari itu, malam itu. Hanya aku. Rasanya aku menyusun algoritma saja waktu itu untuk kubuat dia lebih santai lagi. Yah but that’s you.

Despicable Me 2, Cinema XX1 di Surabaya Town Square. 3 Juli, 2012. Menunggu lagi. Masih sama dia. Keadaan basah kuyup dan terengah-engah menghampiriku. Senyum yang menyampaikan kalimat “maaf, tapi aku tidak terlambat kan?”. Aku membalas dengan senyum yang mengatakan, “santai, masih 7 menit lagi filmnya dimulai”. Kurangkul lengan yang gempal itu. Kuciumi harum badannya. Dan kangen. Sosok yang dulu kaku, selama tiga tahun ini aku ditemani olehnya. Kalian tahu? Itu menandakan bahwa algoritmaku sukses. Entah kenapa padahal kita tiap seminggu sekali bertemu dan aku malam itu saat duduk di sebelahnya, tapi masih suka membaui tubuhnya, the smells felt somehow nostalgic. Aku sayang. He kissed me.

Sepanjang rol film berputar aku tersenyum. Sedikit aku melepasnya, namun barang tidak sampai dua menit aku tersenyum lagi. Suasananya mengingatkanku akan tiga tahun lalu.

Sekarang dia berulang tahun. Umur 21 dan dia masih bersamaku.

Happy birthday, darl! yang baik-baik saja buat kamu..

Ini bukan perayaan tanggal jadian. Mengingat kita tidak pernah jadian sebelumnya. Atau bahkan perayaan ulang tahun. Dia sudah tahu bahwa aku tidak terlalu suka dalam hal perayaan setiap tahunnya.

Ini semua lebih dari hal-hal itu. This is the best sequel i ever through..

Aku terpikat.

Dan minion. Aku ingin punya minion satu dirumah.

Masih Mencoba Merangkai Kata


Aku suka keadaan bulan disaat penuh. Terkadang berwarna orange di saat gelap. Terlihat agung. Padahal cahaya bintang terpinjam olehnya. Tapi sebenarnya tidak hanya bulan.

Aku suka keadaan bintang disaat penuh. Penuh mengisi langit malam. Pernah aku sekali melihat bintang beralih. Sontak pikiran jauhku muncul. Mengingat banyak hal tentang permintaan yang tertahan. Bintang beralih namun masih disana. Tapi sebenarnya tidak hanya bintang.

Aku suka keadaan matahari disaat pukul 5.10 sore. Terlihat indah. Sungguh. Aku berani bertaruh bahwa itu lebih indah dari pelangi yang menampakkan berbagai warna. Ilusi. Karena sebenarnya hanya putih. Matahari sore itu juga satu warna. Orange. Terlihat penuh. Kurasa hanya itu saat-saat dimana bisa menikmati indahnya surya. Dengan desahan kepuasan telah melewati hari. Rasa syukur atas hari ini. Kalemnya petang hendak datang. Lembayung di langit menampakkan gradient warna yang epik. Kalian tahu dipangkal kaki langit berlawanan arah maratahi telah terlihat biru pekat. Menjulur semakin muda birunya menyambut orange. Indah. Orange. Tapi sebenarnya tidak matahari.

Aku suka keadaan dimana aku mendapati diriku dimanja oleh kata. Milyaran kata. Kadang terlintas kalimat yang menderu indah dibenakku. Namun mereka buru-buru hilang saat hendak aku abadikan. Aku masih mencoba. Tidak bulan, tidak bintang, bahkan matahari. Kesukaanku ini hanya bisa dinikmati oleh kata. Kesukaanku akan kata masih kadang tertahan. Kucoba untuk menarik keluar.

Aku masih mencoba merangkai kata.

Dermaga, Pagi, dan Hujan.


Aku terbawa ke suasana delapan tahun lalu. Sentuhan kota tua. Dinding berlumut. Terkadang tanaman berdaun kecil merambat manis meliuk-liuk. Padat rumah saling berhimpitan. Rapi. Tua. Kalem. Berangkat dari rumah dengan alunan lagu lawas rasanya bikin semangat. Walau mendung terlihat dari arah Utara Surabaya. Pertama kali yang terbilang di benakku adalah, “the air felt somehow nostalgic”. Yah itu kutipan dari anime favorit sih, tap-tapi terasa ikut melebur pagi tadi. Banyak awal dimulai dari daerah itu. Awal aku lepas dari bangku sekolah dasar. Awal aku mulai mengenal orang dari daerah yang dimana membutuhkan pergantian 3 macam bemo yang berbeda untuk sampai kerumahnya. Awal aku sedikit berani berkeliling keluar rumah. Masih ingat aku saat mendukung kawan sekelas tanding futsal di SMP Barunawati. Masih ingat juga saat aku main kerumah teman yang alamatnya bernamakan ikan-ikan. Masih ingat. Dimulai dari pasar Blauran lalu masuk ke jalan Bubutan. Hingga Tugu Pahlawan terlihat lurus sampai ujung, belok kiri. Toko kue itu masih tetap diujung jalan pagi tadi. Belok kiri, lagi. Diujung jalan yang paling ujung. Continue reading