Sometime yang sering kali menjadi Everytime


Rutinitasku bulan puasa ini terlampau worthless. Mencoba untuk produktif dengan mengingat segala hal yang aku pelajari sendiri. Namun yang ada hanya jadi draft. Siklus hari ku sudah lebih dari 24 jam dan aku mulai tidak keberatan. Setiap jam malam tiba sudah pasti ada saja notifikasi di HPku. Entah itu chat di Whatsapp atau sms. Ah, sudah terbiasa. Ditinggal pacar tidur tapi mataku masih saja terjaga sekedar mengamati chat di grup atau chat dengan teman atau kakak kelas atau dosen atau yah siapa saja yang masih sadar. Sampai akhirnya aku merasa bahwa tidur satu jam saja sepertinya menyenangkan. Dan tidurlah aku.

Sebenarnya aku sudah mengklaim bahwa aku tiga tahun terakhir ini mempunyai belahan jiwa semacam Personal Computer. Maksudku benar-benar Computer. Bukan secara harfiah tentunya. Namun benar-benar Personal. Dia ini entah kenapa kok cuma dengan dia aku selalu mengalami masalah seperti i dunno how to chat. Padahal kalau dengan orang lain aku luwes saja chat semauku. DIa ini entah kenapa kok cuma dengan dia aku merasa sudah terlampau cukup. Okeh yang barusan tadi bukan masalah sebenarnya. Penyakit akut nomor 1 adalah dia orang yang kaku. Mengingat aku mengklaim diriku berpacaran degan PC. But that’s him. Ini bulan ramadhan ketiga dan dia masih denganku. Jika jatuh cinta itu berarti mendapati diriku cemburu terhadap ibunya, maka terjadilah sudah. Continue reading

Advertisements

Jangan Anggap Perayaan, Anggap Saja Aku Suka Kue.


Tahun kemarin memang ada waktu untuk membuat kue. Dan ada the profesional partner ever juga. Namun sekarang maaf, tidak bisa. Ibuku tadi sms aku pada jam 7.24 am. Beliau berada di Malang. Untung saja sudah masak. Lagi pula ada tugas besar yang masih aku pusingkan. Dan juga aku harus ke kampus untuk mengumpulkan salah satu tugasku dan mengambil nilai. Bukan maksud untuk beralasan. Tapi asli, kali ini tidak bisa. Niat hati ingin membuat muffin keju. Aku suka keju.

Aku tidak mau pusing untuk urusan seperti ini sebenarnya. Bukan maksud ak tidak peduli. Tapi memang kamu tahu sendiri bahwa aku bukan tipe orang yang suka dalam hal perayaan.

Happy birthday yankkkk!!

1.43 am aku kirim sms itu. Biar aku bukan orang pertama. Biar tidak jam 00.00 am tepat. Nevermind :).

Aku iseng bertanya ke teman dekat ku tadi siang. Dapur Cokelat. Iyah, kenapa aku tidak terpikir itu sebelumnya. Hindah lantas mengajakku kesana. Tiramissu dan Mango entah apa namanya kita pesan untuk dimakan disana. Dan dua es coklat yang dingin enak tak lupa juga segelas air es. Untuk dua orang yang kuanggap spesial juga telah kupesan dua cake yang berbeda.

Kakakku tersayang sedang duduk malas menonton televisi dengan keaadan lampu belum menyala. Oh betapa sayangnya aku padanya. Kusuguhkan cake entah lagi-lagi aku lupa namanya. Tidak lama kemudian dia menawariku siomay. Mungkin maksudnya ingin membalas pemberianku tadi. Terima kasih banyak. Tapi aku sudah kenyang. Sekarang cake tinggal satu di lemari es. Aku menunggunya :).

Aku tahu aku belum mandi sekarang dan aku masih ingin bercerita tentang hari ini.

Aku tahu kalau dia belum tentu datang.

Aku tahu aku bahwa aku berharap ibuku membawakan keripik apel kesukaanku sepulangnya dari kota Malang.

Aku tahu kalimat barusan tidak ada hubungannya dengan waktu tungguku ini.

Okay, aku tahu semua itu. Aku menunggu.

Saved. Nanti akan aku update lagi cerita ini.

Aku Masih Ingin Mempunyai Minions


Jika korban kisah fantasi kebanyakan ingin bertemu peri, aku malah ingin bertemu Minions.

Dua kisah yang terulang namun berbeda.

Despicable Me 1, Cinema XXI di Surabaya Town Square. Tiga tahun yang lalu. Menunggu. Pertama kali kita pergi nonton bareng setelah entah berapa bulan tidak bertemu. Mengembalikan hard disk saja dititipkan ke temannya. Pokoknya lelaki kaku yang pernah aku temui di ruang meeting di salah satu ISP Surabaya itu lumayan menarik perhatianku. Sudah kuduga memang dia tidak akan ikut mengembalikan hard disk. Entah yah, feeling. Film animasi itu membawa kami untuk bertemu lagi. Iyah memang saat itu masih malu-malu untuk mengungkapkan kalau ingin bersama. Namun bagaimana lagi sudah kentara dari senyum kami saat duduk berdua di KFC waktu itu. Yah sebenarnya tidak terlalu malu-malu juga sih. Dia yang kukenal kaku ternyata bisa kulihat senyum diwajahnya. Hanya aku. Biasanya kami kalau bertemu selalu ada teman kami. Tapi hari itu, malam itu. Hanya aku. Rasanya aku menyusun algoritma saja waktu itu untuk kubuat dia lebih santai lagi. Yah but that’s you.

Despicable Me 2, Cinema XX1 di Surabaya Town Square. 3 Juli, 2012. Menunggu lagi. Masih sama dia. Keadaan basah kuyup dan terengah-engah menghampiriku. Senyum yang menyampaikan kalimat “maaf, tapi aku tidak terlambat kan?”. Aku membalas dengan senyum yang mengatakan, “santai, masih 7 menit lagi filmnya dimulai”. Kurangkul lengan yang gempal itu. Kuciumi harum badannya. Dan kangen. Sosok yang dulu kaku, selama tiga tahun ini aku ditemani olehnya. Kalian tahu? Itu menandakan bahwa algoritmaku sukses. Entah kenapa padahal kita tiap seminggu sekali bertemu dan aku malam itu saat duduk di sebelahnya, tapi masih suka membaui tubuhnya, the smells felt somehow nostalgic. Aku sayang. He kissed me.

Sepanjang rol film berputar aku tersenyum. Sedikit aku melepasnya, namun barang tidak sampai dua menit aku tersenyum lagi. Suasananya mengingatkanku akan tiga tahun lalu.

Sekarang dia berulang tahun. Umur 21 dan dia masih bersamaku.

Happy birthday, darl! yang baik-baik saja buat kamu..

Ini bukan perayaan tanggal jadian. Mengingat kita tidak pernah jadian sebelumnya. Atau bahkan perayaan ulang tahun. Dia sudah tahu bahwa aku tidak terlalu suka dalam hal perayaan setiap tahunnya.

Ini semua lebih dari hal-hal itu. This is the best sequel i ever through..

Aku terpikat.

Dan minion. Aku ingin punya minion satu dirumah.