Surat Untuk Siapa


Aku bangun dan masih bermimpi.

Bagaimana jika aku menemukan surat yang ditujukan kepada siapa.

Mengatakan akan kejadian suatu masa yang akan merubahku menjadi siapa.

Tertulis di lipatan amplop berwarna coklat seperti kertas buku yang telah lama tertutup.

Masih kuragukan aku ingin membacanya atau tidak.

Mengingat aku masih ingin bermimpi namun kepada siapa surat ini ditujukan pun sebenarnya aku ingin tahu.

Aku ingin memainkan kata-kata di surat itu.

Bagaimana jika aku saja yang menulis suratnya.

Dan menujukan surat itu kepada siapa.

Tapi ternyata aku masih bermimpi.

Oleh karenanya aku tidak perlu menulis surat itu.

Isi suratnya mampu menyesuaikan seperti aku ingin membaca apa.

Aku ingin hilang ingatan.

Di mimpiku itu kudapati diriku hilang ingatan.

Semua kisah yang telah ku baca ingin aku simpan saja.

Tidak perlu muncul lagi.

Tidak. Continue reading

Advertisements