Sometime yang sering kali menjadi Everytime


Rutinitasku bulan puasa ini terlampau worthless. Mencoba untuk produktif dengan mengingat segala hal yang aku pelajari sendiri. Namun yang ada hanya jadi draft. Siklus hari ku sudah lebih dari 24 jam dan aku mulai tidak keberatan. Setiap jam malam tiba sudah pasti ada saja notifikasi di HPku. Entah itu chat di Whatsapp atau sms. Ah, sudah terbiasa. Ditinggal pacar tidur tapi mataku masih saja terjaga sekedar mengamati chat di grup atau chat dengan teman atau kakak kelas atau dosen atau yah siapa saja yang masih sadar. Sampai akhirnya aku merasa bahwa tidur satu jam saja sepertinya menyenangkan. Dan tidurlah aku.

Sebenarnya aku sudah mengklaim bahwa aku tiga tahun terakhir ini mempunyai belahan jiwa semacam Personal Computer. Maksudku benar-benar Computer. Bukan secara harfiah tentunya. Namun benar-benar Personal. Dia ini entah kenapa kok cuma dengan dia aku selalu mengalami masalah seperti i dunno how to chat. Padahal kalau dengan orang lain aku luwes saja chat semauku. DIa ini entah kenapa kok cuma dengan dia aku merasa sudah terlampau cukup. Okeh yang barusan tadi bukan masalah sebenarnya. Penyakit akut nomor 1 adalah dia orang yang kaku. Mengingat aku mengklaim diriku berpacaran degan PC. But that’s him. Ini bulan ramadhan ketiga dan dia masih denganku. Jika jatuh cinta itu berarti mendapati diriku cemburu terhadap ibunya, maka terjadilah sudah. Continue reading

Advertisements

Masih Mencoba Merangkai Kata


Aku suka keadaan bulan disaat penuh. Terkadang berwarna orange di saat gelap. Terlihat agung. Padahal cahaya bintang terpinjam olehnya. Tapi sebenarnya tidak hanya bulan.

Aku suka keadaan bintang disaat penuh. Penuh mengisi langit malam. Pernah aku sekali melihat bintang beralih. Sontak pikiran jauhku muncul. Mengingat banyak hal tentang permintaan yang tertahan. Bintang beralih namun masih disana. Tapi sebenarnya tidak hanya bintang.

Aku suka keadaan matahari disaat pukul 5.10 sore. Terlihat indah. Sungguh. Aku berani bertaruh bahwa itu lebih indah dari pelangi yang menampakkan berbagai warna. Ilusi. Karena sebenarnya hanya putih. Matahari sore itu juga satu warna. Orange. Terlihat penuh. Kurasa hanya itu saat-saat dimana bisa menikmati indahnya surya. Dengan desahan kepuasan telah melewati hari. Rasa syukur atas hari ini. Kalemnya petang hendak datang. Lembayung di langit menampakkan gradient warna yang epik. Kalian tahu dipangkal kaki langit berlawanan arah maratahi telah terlihat biru pekat. Menjulur semakin muda birunya menyambut orange. Indah. Orange. Tapi sebenarnya tidak matahari.

Aku suka keadaan dimana aku mendapati diriku dimanja oleh kata. Milyaran kata. Kadang terlintas kalimat yang menderu indah dibenakku. Namun mereka buru-buru hilang saat hendak aku abadikan. Aku masih mencoba. Tidak bulan, tidak bintang, bahkan matahari. Kesukaanku ini hanya bisa dinikmati oleh kata. Kesukaanku akan kata masih kadang tertahan. Kucoba untuk menarik keluar.

Aku masih mencoba merangkai kata.

Own Self


Suka aku membaca kisah. Sedari duduk di bangku SMP memang novel telah menjadi teman. Kata-kata yang seolah menuntun untuk bertualang. Kurasakan mereka bagaikan tangan dengan jemari kecil. Menggelitik. Membuat terkadang otak ini tidak berada pada tempatnya. Pikiran melayang jauh seakan lupa akan darimana awal dia beranjak terbang. Namun aku masih disini. Dengan posisi tidur membuka buku tebal bergambar milyaran kata-kata. Tak terbilang. Tak terucap.

Suka aku membaca kisah. Setiap pertemuan hampir selalu aku ingat. Kadang tiap bertemu pandang seolah aku membaca judul buku. Tidak penting memang. Tapi sudah terbiasa. Sering kuungkapkan jika mengenali orang lain itu berarti membaca ceritanya. Aku ingin baca. Namun kali ini bukan aku yang membaca.  Kisah mereka kubiarkan bercerita sendiri. Aku tidak ingin repot-repot membuka halaman untuk tiap kata yang terlihat. Iyah, memang sesekali kupaksa membuka jika yang bercerita terasa sumbang terdengar.

Suka aku membaca kisah. Entah sampai kapan aku suka membaca. Sebenarnya semakin banyak yang aku baca, semakin aku rasakan semakin aku lupa. Terkadang kisah yang hampir sama terasa menyatu.

Suka aku membaca kisah. Dengan kopi hitam kental. Sedikit terasa manis di lidah jika telah kutenggak sedikit. Kalian tahu, itu seksi.

Suka aku membaca kisah. Yang jika aku membaca lama hingga kurasakan telapak tangan dan kaki jadi berkeringat dingin. Dan kusentak barang siapa saja yang mencoba menarikku kembali ke dunia ini.

Suka aku membaca kisah. Dengan mata telanjang pada awalnya. Dan aku tahu akan kukenakan suatu saat benda bening berbingkai.

Suka aku membaca kisah. Berdebar. Penuh gairah. Rangsangan. Geli. Hingga nyenyak tertidur dan melanjutkan kisahku sendiri di bayang mimpi.

Suka aku membaca kisah. Melakukan kejahatan dengan mencari tahu. Stalker.

Suka aku membaca kisah. Suka aku membaca kisah.

Aku suka.