Kisah Membawa Nasibnya


Sedari aku lahir sampai sekarang aku menulis ini masih tinggal di rumah kontrakan. Pindah rumah sudah beberapa kali namun masih dalam alamat yang sama, hanya saja beda RT. ┬áDi daerah Dukuh Kupang, Surabaya. Tempat tinggalku mulai jadi bahan perbincangan teman-teman saat diriku mulai masuk SMP. Rumahku tidak jauh dari tempat prostitusi Dolly yang sekarang semakin jadi bahan perbincangan seluruh masyarakat Indonesia karena walikota Surabaya, Bu Risma, hendak menutup tempat tersebut. Namun entah jadi ditutup atau tidak soalnya tentu hal itu menimbulkan pro dan kontra. Rumahku yang di sini jauh dari kata mewah. Tiga kamar tidur, satu dapur, satu kamar mandi, satu ruang tamu, satu ruangan untuk rental PS, dan satu ruangan untuk tinggal nenekku. Kamar tidurku sendiri berukuran kira-kira 2×2.5 meter persegi. Dengan sekat papan triplek untuk semua ruangan. Rumahku ini berjejeran dengan tetangga yang keadaan rumahnya menjadi satu tanah alias tuan rumahnya sama.Dan pembatas antara rumah kita pun hanya papan triplek saja. Jadi segala perbincangan dari keluarga kami jika kami menghendakinya dengan nada tinggi maka akan saling terdengar satu sama lain.

Bapakku adalah orang perantauan dari Malang yang datang ke Surabaya untuk mengadu nasib dan tinggal disini. Namun agaknya kisah ini membawa nasibnya untuk menetap di Sidoarjo. Bapak dan Ibukku tahun lalu sudah mampu untuk membeli rumah sendiri, rumah disana. Iya, aku akan pindah di Sidoarjo. Mungkin sekali dalam seumur hidup aku berpindah rumah jauh setelah sekian lama tidak kemana-mana. Awalnya aku keberatan karena itu letaknya di luar kota. Aku sudah hampir 22 tahun tinggal di Surabaya. Segala sesuatu sudah aku lakukan di Surabaya. Tapi ya apa boleh buat, seisi rumah sudah setuju untuk pindah kesana sedangkan hanya diriku yang tidak memiliki pendukung.

Aku belum pindah saat menulis ini. Kontrakan disini masih sampai bulan Oktober 2014. Namun rencana tanggal 1 Maret sebagian barang akan dipindah kesana. Ada kesenangan dalam rencana pindahan ini. Bagaimanapun juga tentunya tempat baru, lingkungan baru, sikap baru, kamar baru! Aku tidak henti-hentinya berpikir mau aku apakan ruangan ukuran 3×1.9 meter itu. Dan mau aku isi barang-barang apa saja? Seperti apa menatanya? Rumah yang di Sidoarjo tidak seberapa besar, ukurannya 4×27 meter dengan dua bangunan. Bangunan depan berisi tiga kamar tidur dan satu ruang tamu. Bangunan belakang berisi satu kamar dan satu kamar mandi. Dan disela antara dua bangunan itu ada tanah lapang yang lepas dari bangunan namun dijadikan dapur oleh pemilik lamanya. Sekarang ini rumah itu dalam proses renovasi.

Sebenarnya masih mau aku menulis lagi. Namun aku kali ini sedang berpacu dengan tiga hal, mengantuk, belum mengerjakan Tugas Akhir, dan merasakan nyeri-di-hari-pertama.

Advertisements