Us


Kisahku dengan dia sudah berjalan ke umur 4 tahun. Tidak ada tanggal perayaan memang. Walaupun aku sudah menjalin hubungan yang disebut orang lain “pacaran”, ada di sisi otakku yang menyempatkan pikiran kalau aku masih sendiri. Mungkin itu hanya ruang ke-aku-an-ku yang tidak mau diganggu oleh urusan percintaan. Memang aku tidak suka berlarut-larut dalam hal seperti itu. Kecenderungan berpikir tentang perasaan orang lain seringkali menimbulkan Tanya-jawab yang sesat tak berujung. Sering juga aku memandang hubunganku ini seolah aku melihat orang lain yang menjalaninya. Membuatku dapat menilai mana yang aneh, mana yang payah, mana yang kacau, mana yang konyol, mana yang tidak penting, danmana yang bijaksana.
Sejujurnya aku kadang tidak paham apa yang terjadi di antara kita. Ini suatu ketololan percintaan atau apa. Aku dan dia, mengomentari percintaan anak SMP/SMA dan bilang bahwa mereka cupu. Sedangkan kita sendiri dalam menjalaninya pernah juga berlagak seperti itu. Sengaja atau tidak. Dewasa dan menjadi kecil dihadapan aku dan dia sudah sering terjadi.
Aku tidak tahu apa yang merasuki pikiranku sehingga aku ingin sekali menulis ini. 4 tahun itu tidak lama. Awal aku menjalin komitmen untuk bersama sudah sejak awal masuk universitas kurasa. Jadi waktu itu kita memang tidak ada kata jadian, namun mau bersama. Konyol yah mendengar kata “komitmen” seolah kita akan bersama selamanya. But actually we’re fight for it! Tapi dalam 4 tahun itu banyak sekali kejadian. Perubahan pikiran. Mungkin apa yang aku alami ini terlihat konyol. Tapi aku berani taruhan kalau pengalamanku ini juga dialami oleh kebanyakan pasangan di seluruh Indonesia. Eh tapi itu, Mungkin ( .__.)
Jadi dulu kita mau satu sama lain. Aku sih tidak malu buat bilang seperti itu. Toh dia juga mau kan? Jadi kita anggap itu pacaran. Nah disini kita juga mengalami saat-saat dimana kita melarang satu sama lain loh. Seperti dilarang pulang malam, dilarang nongkrong kalau aku cewe sendirian, dilarang memakai celana pendek, dilarang chat sama si Itu, dilarang ketemu sama si Anu, dan larangan-larangan lainnya. Sedangkan kalau larangan untuk dia seperti, dilarang merokok, dilarang ngebut(ini dapat toleransi karena aku juga kadang begitu), dan dilarang apalagi ya? Entah aku sih tidak terlalu banyak melarang dia. Kenapa begitu, karena antara aku dan dia, menurut dia justru akulah yang rawan. Rawan untuk melakukan kesalahan. Iya memang selama umur kita menjalani hubungan ini aku banyak salahnya. Namun bukan berarti dia tidak. Justru dia ini lucu. Ya lucu kalau missal orang lain yang mengalaminya. Tapi tidak kalau untukku. Karena aku terbiasa melihat keadaanku bagaikan orang lain yang mengalaminya, maka aku juga terbiasa menertawakan diriku sendiri. Aku tidak mempermasalahkan hal itu sih. Dia ini suka membandingkan diriku dengannya. Aku bingung. Dia cenderung ke arah “kemapanan” sedangkan aku masih dengan diriku sendiri.

Advertisements

Ketidak Sopanan Dingin


Entah ribuan kata sudah berdesakan di kepala sepertinya.

Kisahku, kisah membawaku ke tanah itu. Jogja. Bayangkan aku yang terlihat meragukan mendapatkan ijin dari orang tua untuk pergi keluar kota. Dengan lelaki yang entah aku harus menyebutnya apa selain pacar. Dengan dia, Aldhi. Ya Tuhan sudah berapa lama aku dengan dia dan kisahku membawa kita ke tanah Jogja. Jika aku berlebihan menceritakan hal ini biarlah. Aku memang pongah dalam bercerita.
Suatu hal yang menurutku tidak mungkin. Tidak semudah itu untuk mendapatkan ijin dari orang tua karena ini memang benar-benar orang tua.
Dia yang mengajakku, entah bagaimana aku harus membantu Dia saat menit-menit menjelang kereta malam berangkat waktu itu. Aku paham jika Dia melakukan kesalahan. Ya siapa yang mengira sepandai-pandainya orang mengatur sesuatu akan ada saja hal, bahkan sekecil apapun, yang menjatuhkan rencana orang tersebut. Namun malam itu hal yang dikira akan menjatuhkan rencana dapat diatasi. Dan aku tidak bisa membantu. Dia paham. Kita sama-sama paham. Dia menangis. Aku mencium pipinya. Tidak lama aku tidur, Dia menyempatkan memakaikan selimut untukku. Suasana kereta malam saat itu memang dingin. Dinginnya Jogja terbawa hingga kita kembali ke Surabaya. Dingin itu menemani kita dengan tidak sopannya.
Aku ingin membalas Dia tapi tidak tahu bagaimana.

Terima kasih atas kisahku.
2014 Feb 16, Sun 11:33 PM